Persediaan minyak kelapa sawit di Malaysia, sebagai
produsen kedua terbesar di dunia, diprediksi menyusut ke level terendah dalam
dua tahun terakhir. Harga pun berpeluang mencapai level 2.900 ringgit per ton
pada bulan ini.
Dua faktor utama yang mendorong harga ialah
meningkatnya permintaan menjelang bulan Ramadan dan tingkat produksi yang belum
pulih.
Pada penutupan perdagangan Bursa Malaysia Senin (6/6)
harga CPO untuk kontrak Agustus 2016 turun 7 poin atau 0,26% ke level 2.659
ringgit (US$647,84) per ton.
Median survei Bloomberg yang melibatkan 10 produsen,
analis, dan perdagangan memprediksi stok CPO Malaysia pada Mei 2016 terkoreksi
7,8% secara bulanan (mom) menuju 1,66 juta ton. Angka tersebut merupakan level
terendah sejak Juni 2014.
Sementara tingkat produksi naik 3,8% (mom) menjadi
1,35 juta ton, melambat dari pertumbuhan Maret sebesar 17%. Kapasitas ekspor
juga diperkirakan meningkat 14% (mom) menjadi 1,32 juta ton. Survei juga
memperkirakan impor CPO Negeri Jiran pada Mei turun 25% menjadi 50.000 ton.
Adapun tingkat produksi di dalam negeri berkisar 210.000 - 280.000 ton.
Stok CPO menjelang Ramadan di Malaysia dan Indonesia
yang menguasai 86% pasokan global diperkirakan bakal menurun karena
meningkatnya permintaan. Selain itu, masalah El Nino masih membatasi kapasitas
produksi di dua negara tersebut.
Setelah Ramadan, biasanya stok di negara-negara
konsumen pun menurun, sehingga ekspor dari Indonesia dan Malaysia bakal
meningkat. Malaysian Palm Oil Board sendiri bakal merilis data resmi persediaan
CPO domestik pada Jumat 10 Juni 2016.
Dalam beberapa waktu mendatang, ekspor dari Malaysia
dan Indonesia akan meningkat, karena stok CPO pembeli yang kosong akibat
tingginya konsumsi di bulan Ramadan dan hari Raya ldul-Fitri.
Ramadan tahun ini jatuh pada minggu pertama Juni
hingga perayaan Idul-Fithri di minggu pertama-Juli. Momen tahunan tersebut
biasanya secara historis menaikkan konsumsi minyak nabati global.
Regional Head of Plantations CIMB Investment Bank
Bhd., mengatakan harga CPO di bursa Malaysia menyentuh level puncak sepanjang
tahun berjalan pada 29 Maret, yakni 2.793 ringgit per ton. Angka tersebut
merupakan level tertinggi sejak Maret 2014.
Kontrak pengiriman Agustus ditutup 2.656 ringgit per
ton pada Jumat (3/6), sehingga mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 4,2% alau
tertinggi sejak Februari. Menurutnya, pada Juni harga CPO bakal bergerak di
kisaran 2.500-2.900 ringgit per ton, seiring dengan berkurangnya suplai dan
naiknya permintaan.
PRODUKSI LAMBAT
Andrew Shipley, Principal Consultant EPC, menyampaikan
berdasarkan data CIMB Bank Malaysia, stok CPO pada Mei turun 12% (mom) menuju
1,6 juta ton.
Merosotnya persediaan disebabkan naiknya ekspor
sebesar 13% (mom) dan pertumbuhan produksi yang lambat. Menurunnya stok
mengurangi tekanan terhadap harga minyak sawit. MIDF Research dalam
publikasi risetnya menyatakan, program B7 dan B10 yang efektif pada Juni 2016
diharapkan menggenjot konsumsi domestik Malaysia menjadi 709.000 ton. Bertumbuhnya
konsumsi biodiesel dalam negeri turut mendongkrak kenaikan harga CPO.
Dalam jangka panjang, kapasitas persediaan
diestimasikan turun di bawah 2,5 juta ton selama periode puncak produksi antara
September s.d. November 2016. Persediaan pada Mei pun diprediksi bakal menurun
7% (mom) menjadi 1,7 ton.
Selain bertumbuhnya konsumsi biodiesel domestik, ada
dua faktor lain yang memengaruhinya, yakni tren pola produksi secara historis
dan melejitnya permintaan pada Ramadan. Secara keseluruhan, MIDF tetap
mempertahankan proyeksi bullish terhadap CPO dimana harga dapat mencapai
3.000 ringgit Malaysia per ton pada Agustus 2016. Namun, prediksi ini melambat
dibandingkan sebelumnya akibat masih lesunya permintaan China.
Direktur Eksekutif GAPKI, menuturkan pada momen
Ramadhan, konsumsi minyak nabati khususnya di negara-negara dengan mayoritas
penduduk muslim akan meningkat. GAPKI memperkirakan harga CPO global sampai
pada dua pekan pertama Juni akan bergerak di kisaran US$695-US$750 per ton. (Bloomberg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar