Rabu, 08 Juni 2016

HARGA CPO KEMBALI MEROKET TAJAM




Harga minyak kelapa sawit CPO diprediksi terus mengalami kenaikan seiring dengan menurunnya persediaan di Indonesia dan Malaysia, serta bertumbuhnya permintaan saat periode Ramadan. Pada penutupan perdagangan Bursa Malaysia Rabu (1/6) harga CPO untuk kontrak Agustus 2016 turun 22 poin atau 0,84% ke level 2.598 ringgit (US$637,35) per ton.

MIDF Research dalam publikasi risetnya,  industri Perkebunan dan Komoditas Malaysia mulai mengefektifkan program B10, yakni meningkatkan campuran biodiesel untuk penggunaan transportasi. Sementara program 87 akan diberlakukan untuk sektor industri, yang meliputi bidang komersial dan pembangkit listrik. Kedua agenda yang efektif pada Juni 2016 ini diharapkan menggenjot konsumsi domestik menjadi 709.000 ton. Kondisi tersebut diprediksi bakal meminimalkan penggunaan 820 juta liter solar dan 2,16 juta ton karbon dioksida per tahun.

Bertumbuhnya konsumsi biodiesel dalam negeri turut mendongkrak kenaikan harga CPO. Dalam jangka panjang, kapasitas persediaan diestimasi turun di bawah 2,5 juta ton selama periode puncak produksi antara September sampai dengan November 2016. Pada April konsumsi CPO Negeri Jiran tumbuh 8,7% secara bulanan dan 1,6% secara tahunan menjadi 263.771 ton, konsumsi CPO yang bertumbuh disebabkan kenaikan penerapan biodiesel.

Selain bertumbuhnya konsumsi biodiesel domestik, ada dua faktor lain yang mempengaruhinya, yakni tren pola produksi secara historis dan melejitnya permintaan menjelang bulan Ramadhan - Juni 2016. Secara keseluruhan, MIDF tetap mempertahankan proyeksi bullish terhadap CPO, dimana harga dapat mencapai 3.000 ringgit Malaysia per ton.

Namun, prediksi ini melambat dibandingkan sebelumnya akibat melesunya permintaan China. Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menginformasikan persediaan CPO sepanjang 2016 menunjukkan tren menurun. Pada Januari, stok mencapai 2,3 juta tetapi terus merosot menuju 1,8 juta per April. Tren penyerapan, persediaan, dan ekspor CPO yang terjadi di Malaysia serupa dengan Indonesia.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyampaikan per April stok minyak sawit Tanah Air termasuk biodiesel dan oleochemical tercatat turun sebesar 25% (mom) atau dari 3,02 juta ton menjadi 2,27 juta ton. Menurut GAPKI, stok CPO dalam negeri tergerus akibat tingkat produksi yang stagnan, meningkatnya ekspor, dan mulai bertumbuhnya penyerapan biodiesel.

Bulan lalu, produksi biodiesel di dalam negeri mencapai 253.000 kiloliter, dengan konsumsi domestik mencapai 233.000 kl atau naik 16% (mom). Beberapa daerah rata-rata juga mengalami penurunan produksi terutama Sumatera, sedangkan kenaikan tipis hanya terjadi di Kalimantan, kecuali Kalimantan Tengah. Volume produksi minyak sawit Indonesia pada April mencapai 2,34 juta ton atau naik 1% (mom) dari 2,32 juta ton.

Sementara volume ekspor CPO tercatat naik 20% (mom) dari 1,74 juta ton pada Maret menuju 2,09 juta ton di April. "Ekspor minyak sawit Indonesia tidak terkerek signifikan karena harga minyak sawit yang tinggi sehingga selisih harga dengan minyak kedelai sangat tipis, akibat minyak kedelai lebih diminati.

Sementara itu, secara tahunan (yoy) kinerja ekspor minyak sawit Indonesia pada kuartal I/2016 mencapai 8,23 juta ton, naik 4,5% dari periode yang sama tahun 2015 sejumlah 7,88 juta ton. Sepanjang April harga CPO global bergerak di kisaran US$692,5 - US$745 per ton, dengan rerata harga US$713,1 per metrik ton.

Kenaikan Ekspor Terbatas
Di tengah upaya sejumlah negara berlomba-lomba mengisi cadangan minyak nabatinya yang mulai menipis, ekspor CPO Indonesia pada April hanya terkerek 20% dari bulan sebelumnya.

Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menunjukkan volume ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada April 2016 hanya sebesar 2,09 juta ton. Pada bulan sebelumnya, ekspor tercatat sebesar 1,74 juta ton. Cadangan minyak nabati dunia tengah menurun, dipicu oleh minimnya produksi di negara penghasil, utamanya kedelai di Argentina dan Brasil, karena pengaruh cuaca.

Dinamika harga CPO membuat pertumbuhan ekspor komoditas itu terbatas atau tidak signifikan, apalagi di tengah meningkatnya kebutuhan sejumlah negara jelang masa Ramadhan. “Harga minyak sawit tinggi dan selisih harga dengan minyak kedelai sangat tipis. Akibatnya, minyak kedelai lebih diminati.

Secara kumulatif, ekspor CPO selama empat bulan pertama tahun ini tumbuh tipis 4,5% secara year on year menjadi 8,23 juta ton dari 7,88 juta ton. Sementara itu, produksi CPO domestik sepanjang April 2016 relatif stagnan. Produksi di beberapa daerah bahkan tercatat menurun, terutama di Sumatra. Kenaikan tipis terjadi di Kalimantan, kecuali Kalimantan Tengah.

Secara nasional, produksi CPO hanya naik 1% dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni dari 2,32 juta ton menjadi 2,34 juta ton. Adapun, pada bulan yang sama, pasokan CPO Indonesia termasuk biodiesel dan oleochemical terdepresiasi sebesar 25% dari 3,02 juta ton menjadi 2,27 juta ton.

Peningkatan ekspor dan penyerapan biodiesel dalam negeri tak sepadan dengan produksi yang cenderung stagnan. Alhasil, stok pun tergerus. Gapki mencatat penyerapan biodiesel berjalan konsisten. Selama April, produksi biodiesel mencapai 253.000 kiloliter dengan penyerapan mencapai 233.000 atau naik 16% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

TUJUAN EKSPOR
Dari sisi negara tujuan, ekspor CPO ke sejumlah negara tujuan utama tercatat naik, kecuali ke China. Amerika Serikat bahkan membukukan lonjakan impor hingga 564% dari 12.240 ton pada Maret dari 81.310 ton selama April. Kenaikan permintaan tersebut dinilai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri karena pasokan minyak nabati yang menipis. Penurunan pasokan ini terjadi sejak akhir tahun lalu dan diperburuk dengan gagal panen di wilayah bagian selatan Amerika.

Kenaikan permintaan CPO juga terjadi di negara-negara Afrika sebesar 40%, India sebesar 32%, Pakistan 26%, Uni Eropa sebesar 18%, dan Bangladesh 17%. Di sisi lain, permintaan China justru melemah cukup tajam, yakni sebesar 20% dari posisi 185.950 pada Maret menjadi 149.340 pada April. Pembelian dari China terus menunjukkan tren penurunan sejak awal 2016, disinyalir karena China lebih memilih kedelai.

Dari segi harga, harga sepanjang April CPO tercatat bergerak pada kisaran US$692,5-US$745 per metrik ton dengan rerata harga US$713,1 per metrik ton. Rerata harga tersebut naik 4,6% dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni US$681,8 per metrik ton. Adapun, selama Mei 2016 harga CPO bergerak pada rentang US$680-US$742,5 per metrik ton.

Harga akan terus naik karena penurunan produksi di Indonesia dan Malaysia yang masih terpengaruh El Nino tahun lalu. Di sisi lain, penurunan produksi minyak nabati lain seperti kedelai dan rapeseed juga ikut mengerek permintaan global.

Bulan puasa diyakini turut mendorong tingkat konsumsi minyak nabati khususnya di negara dengan mayoritas pen duduk muslim. Kondisi ini diproyeksikan akan memperkuat harga CPO global sampai dua pekan pertama Juni pada kisaran US$695-US$750/metrik ton. Di sisi lain, selama Mei pengusaha CPO juga mulai dikenakan bea keluar (BK) sebesar US$3 per metrik ton. Pengenaan BK tersebut tercatat sebagai yang pertama kalinya sejak Oktober 2014.

Pungutan CPO Fund juga tetap ber laku US$50 per metrik ton. Untuk pengapalan Juni, Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi CPO sebesar US$751,55 per metrik ton, atau turun 0,34% dari periode Mei yang sebesar US$754,10 per metrik ton. Dengan demikian, BK CPO untuk Juni ditetapkan sebesar US$3 per metrik ton atau sama dengan yang ditetapkan pada bulan sebelumnya.


POSISI HARGA KOMODITAS CPO



POSISI HARGA KOMODITAS CPO
 PADA PENUTUPAN BURSA & PASAR FISIK
TGL. 8 JUNE 2016 UNTUK PENYERAHAN BULAN JUNI 2016


EU mkt, palm oil crude, Ina/ Msia orig, cif Rott., @ton US$ 720 (0) 
RBD Olein, Msia orig, fob Msia, @ton US$ 690 (0)
PKO, Ina/ Msia orig, cif Rott., @ton US$ 1,270
(0) (penyerahan Jul’16)

Bursa Malaysia Derivatives (BMD), CPO @ton MYR 2,632 
(-8) 
Bursa Komoditi & Derivatif Indonesia (ICDX), CPO @ton IDR 8,885 (-25)

Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), RBD Olein @kg IDR 9,960 
(+20)
KPB Nusantara, CPO, Delivered Mdn/Dmi, @kg IDR 8,235 (-161)

Sicom, fob @kg, TSR20 USCents 127.10, RSS3 USCents 152.10

Kurs tengah, @US$, MYR=4.045 (=Rp3,279.69), IDR=13,257.50

[1 bushel = 36 Li, 1 lb = 0,453592 kg]

Sumber:
Harian Bisnis Indonesia, KOMPAS, Kontan.
http://futures.tradingcharts.com/marketquotes
http://rubberboard.org.in
www.kpbptpn.co.id/about.php/lang=1

Senin, 06 Juni 2016

MEMASUKI AWAL RAMADHAN STOCK CPO MENURUN, HARGA NAIK




Persediaan minyak kelapa sawit di Malaysia, sebagai produsen kedua terbesar di dunia, diprediksi menyusut ke level terendah dalam dua tahun terakhir. Harga pun berpeluang mencapai level 2.900 ringgit per ton pada bulan ini.

Dua faktor utama yang mendorong harga ialah meningkatnya permintaan menjelang bulan Ramadan dan tingkat produksi yang belum pulih.

Pada penutupan perdagangan Bursa Malaysia Senin (6/6) harga CPO untuk kontrak Agustus 2016 turun 7 poin atau 0,26% ke level 2.659 ringgit (US$647,84) per ton.

Median survei Bloomberg yang melibatkan 10 produsen, analis, dan perdagangan memprediksi stok CPO Malaysia pada Mei 2016 terkoreksi 7,8% secara bulanan (mom) menuju 1,66 juta ton. Angka tersebut merupakan level terendah sejak Juni 2014.

Sementara tingkat produksi naik 3,8% (mom) menjadi 1,35 juta ton, melambat dari pertumbuhan Maret sebesar 17%. Kapasitas ekspor juga diperkirakan meningkat 14% (mom) menjadi 1,32 juta ton. Survei juga memperkirakan impor CPO Negeri Jiran pada Mei turun 25% menjadi 50.000 ton. Adapun tingkat produksi di dalam negeri berkisar 210.000 - 280.000 ton.

Stok CPO menjelang Ramadan di Malaysia dan Indonesia yang menguasai 86% pasokan global diperkirakan bakal menurun karena meningkatnya permintaan. Selain itu, masalah El Nino masih membatasi kapasitas produksi di dua negara tersebut.

Setelah Ramadan, biasanya stok di negara-negara konsumen pun menurun, sehingga ekspor dari Indonesia dan Malaysia bakal meningkat. Malaysian Palm Oil Board sendiri bakal merilis data resmi persediaan CPO domestik pada Jumat 10 Juni 2016.

Dalam beberapa waktu mendatang, ekspor dari Malaysia dan Indonesia akan meningkat, karena stok CPO pembeli yang kosong akibat tingginya konsumsi di bulan Ramadan dan hari Raya ldul-Fitri.

Ramadan tahun ini jatuh pada minggu pertama Juni hingga perayaan Idul-Fithri di minggu pertama-Juli. Momen tahunan tersebut biasanya secara historis menaikkan konsumsi minyak nabati global.

Regional Head of Plantations CIMB Investment Bank Bhd., mengatakan harga CPO di bursa Malaysia menyentuh level puncak sepanjang tahun berjalan pada 29 Maret, yakni 2.793 ringgit per ton. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Maret 2014.

Kontrak pengiriman Agustus ditutup 2.656 ringgit per ton pada Jumat (3/6), sehingga mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 4,2% alau tertinggi sejak Februari. Menurutnya, pada Juni harga CPO bakal bergerak di kisaran 2.500-2.900 ringgit per ton, seiring dengan berkurangnya suplai dan naiknya permintaan.

PRODUKSI LAMBAT
Andrew Shipley, Principal Consultant EPC, menyampaikan berdasarkan data CIMB Bank Malaysia, stok CPO pada Mei turun 12% (mom) menuju 1,6 juta ton.

Merosotnya persediaan disebabkan naiknya ekspor sebesar 13% (mom) dan pertumbuhan produksi yang lambat. Menurunnya stok mengurangi tekanan terhadap harga minyak sawit.  MIDF Research dalam publikasi risetnya menyatakan, program B7 dan B10 yang efektif pada Juni 2016 diharapkan menggenjot konsumsi domestik Malaysia menjadi 709.000 ton. Bertumbuhnya konsumsi biodiesel dalam negeri turut mendongkrak kenaikan harga CPO.

Dalam jangka panjang, kapasitas persediaan diestimasikan turun di bawah 2,5 juta ton selama periode puncak produksi antara September s.d. November 2016. Persediaan pada Mei pun diprediksi bakal menurun 7% (mom) menjadi 1,7 ton.

Selain bertumbuhnya konsumsi biodiesel domestik, ada dua faktor lain yang memengaruhinya, yakni tren pola produksi secara historis dan melejitnya permintaan pada Ramadan. Secara keseluruhan, MIDF tetap mempertahankan proyeksi bullish terhadap CPO dimana harga dapat mencapai 3.000 ringgit Malaysia per ton pada Agustus 2016. Namun, prediksi ini melambat dibandingkan sebelumnya akibat masih lesunya permintaan China.

Direktur Eksekutif GAPKI, menuturkan pada momen Ramadhan, konsumsi minyak nabati khususnya di negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim akan meningkat. GAPKI memperkirakan harga CPO global sampai pada dua pekan pertama Juni akan bergerak di kisaran US$695-US$750 per ton. (Bloomberg)